Membaca The Guild dalam Sekali Duduk

FeaturedMembaca The Guild dalam Sekali Duduk

Kemarin, buku The Guild dari OMAH Library akhirnya datang. Seperti biasa, sebelum mulai membaca, saya memindai sekilas keseluruhan isi buku, sebelum benar-benar membaca dari awal hingga akhir.

The Guild, ditulis secara kolaboratif oleh Anas Hidayat dan Realrich Sjarief. Buku ini menceritakan bagaimana karya arsitektur Realrich Sjarief dilahirkan. Hingga memberikan satu narasi penting dan patut untuk tidak dilewatkan.

Pada bagian pengantar: batas, menjadi satu tantangan guna dijawab sebagai permasalahan atas kantor lama yang sudah tidak relevan. Bab pertama, dibuka dengan kisah dan proses bagaimana The Guild dilahirkan sebagai karya arsitektur. Bab selanjutnya, kawasan Teluk Naga dengan segala kompleksitasnya, menjadi sebuah kesempatan untuk menghadirkan sesuatu yang baru. Dan, sebagai pamungkas, bab terakhir menceritakan bagaimana keprofesian arsitektur serta tanggung jawabnya dalam keseharian.

Satu pertanyan yang belum terjawab ketika selesai membaca buku ini: adakah proses bongkar sana-sini, ganti warna, material dan penambahan lain sebelum menjadi karya yang terlihat serius seperti sekarang? Apakah ia mengalami perubahan gagasan pada tiap prosesnya? Serta, berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam menorehkan garis pertama di tiap proses merancang? Tentu hal ini hanya dapat dijawab langsung oleh si empunya karya.

Saya sependapat jika proses berarsitektur Realrich Sjarief dikatakan Anas Hidayat “sudah [hampir] paripurna”. Karena ruang waktu dan konteks sosial mampu ia tindaklanjuti dengan baik. Proses berarsitektur, jika terus-menerus dilatih, disadari atau tidak, arsitek seolah-olah terampil secara organik dalam detail tiap prosesnya.

Buku The Guild mampu saya rampungkan dalam sekali duduk. Namun, saya yakin ini tidak dapat terjadi dalam proses merancang arsitektur. Sebagaimana yang Anas Hidayat sebut: 99,9% The Guild ialah karya arsitektur sudah [hampir] paripurna, dan menyisakan 0,1% guna membaca ketidakmungkinan yang akan terjadi.

Hal ini menjadi sebuah gambaran, bahwa proses berarsitektur masih sangat panjang, dan akan terus berjalan, mengikuti dinamika di tiap ruang waktunya.

Advertisements

Alejandro Aravena, Arsitek yang Bangkitkan Kembali Sebuah Negeri

FeaturedAlejandro Aravena, Arsitek yang Bangkitkan Kembali Sebuah Negeri

Tampan, menawan, dan masyhur di Chili, negeri asalnya, seorang pemenang kejutan Pritzker Prize [2016] ini lebih banyak terlibat dalam membongkar masalah sosial daripada melatih kemampuan “akrobat bentuk.”

oleh Michael Kimmelman*

Gempa bumi, satu bencana besar yang pernah tercatat, mengguncang tengah malam pada akhir Februari 2010. 18 menit kemudian kerusakan muncul, tsunami, porak-porandakan Pasifik hingga muara Sungai Maule, di mana terdapat daerah kecil, kota Constitución yang sulit dijangkau berada. Lebih dari 500 korban meninggal. Warga kehilangan rumah, akses listrik, dan air bersih.

Beberapa hari kemudian seorang arsitek, Alejandro Aravena, mengamati kerusakan melalui helikopter. Firmanya, Elemental, serta beberapa daftar tim konsultan telah menyusun rencana rekonstruksi. Arauco sebagai perusahaan kehutanan yang pekerjakan ribuan pegawai di Constitución telah sepakat membiayai rencana tersebut.

Continue reading “Alejandro Aravena, Arsitek yang Bangkitkan Kembali Sebuah Negeri”

Laboratorium Arsitektur Sastrawi

FeaturedLaboratorium Arsitektur Sastrawi

oleh Matteo Pericoli*

Saya senantiasa kagum dengan kepiawaian arsitek merangkai sebuah susunan yang benar-benar menghadirkan ruang. Bentuk, material, dan teknologi ialah elemen yang dibutuhkan dalam memaknai apa yang sebelumnya tiada –menjadikan kita, para pengguna, merasakan kehadiran ruang. Sepintas saya terkenang Patheon di Roma dengan kedahsyatan ruang yang “terpancar” cahaya dari rongga atas; begitupula citra tiap bangunan yang dirancang oleh Pier Luigi Nervi, insinyur struktur Italia, di mana Anda dapat melihat upaya fisik yang dihadirkan menggunakan “puntiran” guna mendapatkan sensasi ruang. Struktur tersebut membuat kita seolah ternaungi, leluasa, sekaligus terperangkap. Mereka membawa kita melewati tiap ruang, yang dapat mempercepat atau bahkan memperlambat proses renung kita. Penulis besar, dalam merumuskan karya sastranya, melakukan hal yang sama.

Ketika kita membaca sebuah novel, cerita pendek, atau sebuah bagian nonfiksi, secara sadar maupun tidak, sering kita dibuat masuk dalam struktur cerita yang dibangun oleh penulis. Saya tidak bicara seberapa cakap imajinasi dalam pikiran kita atau seberapa kuat rangkaian yang dibangun dan dituturkan dalam tulisan, tetapi ada perbedaan kedalaman rasa yang dibangun pada tiap ruang oleh masing-masing orang.

Continue reading “Laboratorium Arsitektur Sastrawi”

Dua Pekan Sebelum Catur Sidang

Dua pekan sebelum sidang. Catur mampir ke Tegalweru. Ia terlihat sibuk mengutak-atik gambarnya di komputer Cak Dzul. Saya tepat duduk di sampingnya, dengan pekerjaan yang sama, mengutak-atik gambar tiga dimensi miliknya untuk materi poster. Kami bekerja berturut-turut hingga dini hari, selama dua malam.

Sepuluh hari sebelum sidang. Saya mampir ke Joyo Raharjo, tempat ia ngontrak. Catur sedang menaburkan serbuk kayu untuk tekstur rumput dengan ayakan, untuk mendapatkan tekstur yang halus. Saya berdiri di sampingnya, mengamati, sesekali bertanya dan mengomentari.

Lima hari sebelum sidang. Menjelang sore. Catur di depan rak buku, mengocok-ngocok botol hijau berisi larutan pewangi untuk baju yang akan disetrika. Ia terlihat tenang, setelah dua pekan sibuk mempersiapkan materi tugas akhirnya. Ia menyetrika setelan baju putih, celana hitam, dasi hitam, serta almamater untuk dikenakannya di sidang akhir nanti. Malamnya, saya diajak mengambil hasil cetakan poster untuk kelengkapan sidang.

Duabelas jam sebelum sidang. Ia masih menyempatkan bermain Mobile Legend, permainan yang sudah beberapa hari tidak ia mainkan. Ia satu tim dengan Rafi, kawan dari Pasuruan. Dan, sesuai nurani saya, kekalahan demi kekalahan mereka dapat. Rafi mengajak bermain lagi. Catur menolak. Ia harus istirahat untuk sidang esok hari.

Satu jam sebelum sidang. Ia bergegas mandi dan berganti baju. Tidak ada waktu untuk sarapan. Ia harus segera ke kampus mempersiapkan materi ujiannya.

Sidang dimulai. Ia presentasi. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan dewan penguji. Sidang diakhiri. Ia menerima catatan revisi. Poster dan maket ia kemasi. Ia turun ke kantin tengah. Mengambil sebatang rokok dari slingbag nya. Asap mengepul. “Lemes aku, durung sarapan.” Katanya

Preview 1: Sebuah Catatan

Saya tidak punya ekspektasi tinggi terhadap apapun. Termasuk saat ujian preview 1 tugas akhir kemarin. Saya berlaku demikian sebab dua hal: pertama, tidak banyak waktu yang saya luangkan untuk menyelesaikan gambar. Kedua, terlalu lama ide bentuk perancangan muncul di kepala saya. Alhasil, dapat kelayakan dan bisa ujian saya sudah bersyukur.

Kelayakan sudah saya dapatkan. Gambar saya coba tata ulang. Tidak lama jadwal diunggah oleh Bu Luluk di grub WA. Oke. Nama saya muncul dan ujian di hari Rabu. Penguji: Pak Farid Nazaruddin.

“Aman.” Pikir saya.

Hari Rabu, saya ujian setelah Catur menyelesaikan ujian preview 2. Setelah menempel gambar. Pak Pudji dan Bu Luluk masuk ruangan. “Zam, tolong kamu jemput Pak Farid di ruangannya.”

“Inggih, Bu.”

Pak Farid masuk. Sidang dimulai. Saya tidak banyak menjelaskan tentang konsep. Hasil perancangan pada site plan, layout plan, dan denah saya tampilkan dan jelaskan sesederhana mungkin. “Satu menit lagi.” Kata Bu Luluk

Saya langsung menjelaskan bagian terakhir. “Terimakasih, mungkin sementara ini yang dapat saya jelaskan.”

“Baik, terimakasih, lanjut tanya jawab. Pak Farid silahkan.” Pungkas Bu Luluk.

Pak Farid tidak bertanya banyak, hanya saja ia coba menanyakan kesesuaian konsep dengan hasil rancangan. Serta tidak kalah penting sirkulasi dalam rancangan. Kemudian, Pak Pudji mengkritisi mengenai alur untuk evakuasi saat bencana dan apa saja fokus sastra yang akan diwadahi dalam perancangan Taman Kepustakaan Sastra ini.

Tanya jawab selesai. Saya sudah mencatat semua masukan dari penguji. Bu Luluk meminta saya keluar sebentar agar penguji dapat berdiskusi.

Saya menunggu dan duduk di bangku depan pintu ruang majelis. Satu menit kemudian. Pak Farid keluar ruangan. Saya berjabatan tangan.

Bu Luluk dan Pak Pudji Menyusul. Bu Luluk menyodorkan lembar revisi.

“Lanjutkan, jangan lama-lama ngerjakannya.”

“Inggih, Bu.”

Akhirnya, preview 1 telah saya tempuh. Jadwal preview 2 semakin dekat. Kelayakan belum didapat. Revisi belum kelar. Modyar!

Kabul

Hisbul, bukan nama sebenarnya. Nama aslinya adalah Kabul, saya mengenalnya demikian. Kalian mau memanggil dengan nama Hisbul atau Kabul, tak masalah, terserah kawan-kawan. Yang jelas, keduanya punya makna baik.

Tapi saya lebih suka memanggilnya dengan Kabul, karena maknanya spesifik. Karena setiap hal yang kita sampaikan kepadanya pasti terkabulkan.

Benar saja. Tadi sore kawan saya minta ia mempersiapkan kopi untuk kawan-kawan lain yang akan kerja. Dan, ia menyiapkannya. Benar-benar pas. Sesuai namanya.

Tidak sekali saja. Kawan yang lain meminta dia untuk memotong bambu. Tanpa banyak alasan, ia mengabulkan dan langsung laksanakan tugas dengan baik. Dan, setelahnya, beberapa permintaan kami yang lain juga ia luluskan.

Begitulah cara nama bekerja, kawan. Ia dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali diri.

Bagaimana dengan kalian? Bagaimana cara nama kalian bekerja selama ini? Silahkan isi kolom komentar atau lewat pesan personal.

Kawan Baik

Kemarin Studio Tugas Akhir kedatangan tiga kawan baik: Bang Ubay (@bang_ubay_arch), Mas Tiar (@adityarsitek), dan Mas Aris (@ariszr). Begitu saya mengenal dan biasa menyapa. Mereka bertiga kakak tingkat saya di jurusan Teknik Arsitektur, UIN Malang. Kedatangan mereka kali ini karena diminta Bu Tara, selaku Ketua Jurusan, dan Bu Luluk, selaku Koordinator Studio TA, untuk ceritakan apa yang sedang menjadi kesibukan mereka setelah lulus kuliah.

Mas Tiar, berbagi pengetahuan selama bekerja di Hunter Douglas, sebuah perusahaan multinasional Belanda, yang punyai banyak cabang perusahaan di berbagai negara, salah satunya di Surabaya, Indonesia, tempat Mas Tiar bekerja saat ini. Bisnis utamanya adalah produksi material penutup jendela (korden) serta fasad bangunan.

Bang Ubay, memaparkan apa yang telah ia kerjakan setelah lulus dan tiga tahun bergabung di AndyRahman Architect (@andyrahman.architect). Dengan proyek arsitektur yang ragam dan bahkan pernah ia kawal mulai titik awal: dari bertemu klien, desain, visualisasi, hingga meninjau pembangunan di tapak secara langsung. Proses yang kompleks tersebut menjadi modal pengetahuan yang kaya bagi dirinya.

Sedangkan, Mas Aris dengan @area55studio yang ia rintis bersama dua orang kawannya yang lain, berdedikasi dalam hal architecture post-production, atau sering disebut 3D visual artist. Tidak sedikit karya visual yang ia kerjakan bersama tim, bahkan tidak sedikit perusahaan besar yang menggunakan jasa visualisasi arsitektur. Kebutuhan yang terus tumbuh, membuat anggotanya pun turut tumbuh hingga kini menjadi 11 orang.

Ketiganya, saya kira, masing-masing punyai praktik arsitektur yang berbeda, dengan karakter dan resiko yang juga berbeda tentunya. Namun, cerita mereka bertiga menunjukkan satu hal: mereka menjalani profesinya dengan serius.

Praktik kerja atau keprofesian arsitektur setelah lulus nanti, disadari atau tidak, dari hari ke hari masih sangat terbuka, beragam, dan dapat dipilih sesuai kebutuhan. Pun juga tidak dapat dipisahkan dari sejauh mana diri kita mampu menjawab permasalahan yang hadir dan semakin kompleks pada ruang waktu yang kita tempati.

Seperti Sidang di Kebun Binatang

Seperti Sidang di Kebun Binatang

Hari ini saya kesiangan. Jam sudah melewati angka sebelas. Sebentar lagi dzuhur. Saya belum mandi. Seharusnya saya sudah di kampus. Tapi tak mengapa. Saya kemudian bersiap dan berangkat. Perjalanan dengan motor dari Tegalweru saya lakukan dengan tidak terburu. Yang penting, saya ke kampus, untuk hadir di Sidang Tugas Akhir kawan saya: Airlangga Cahya Hardikusuma.

“Azam mau nonton?” Suara Bu Elok bertanya saat kepala saya nongol melewati pintu ruang majelis.

“Iya Bu.”

“Yauda, masuk aja.”

Saya langsung mengambil posisi duduk paling sudut agar mudah mengambil gambar.

Pak Turi, Bu Elok, dan Bu Tara sebagai penguji sudah hadir. Sidang dimulai setelah para penguji menghabiskan nasi kotak yang sudah dihidangkan di hadapan mereka.

Sebelum dimulai. Angga pergi membasuh muka dan membasahi rambutnya yang kering.

Setelah melengkapi lembar data, Bu Elok menutup pintu, membuka sidang, dan kemudian memberi waktu Angga sepuluh menit untuk menjelaskan hasil perancangannya: Perancangan Kembali Kebun Binatang Surabaya dengan pendekatan Arsitektur Organik.

Dengan pendekatan arsitektur organik. Angga coba sedetail mungkin menjelaskan apa makna arsitektur organik. Yakni tentang menghadirkan keseimbangan lingkungan sebagai sebuah suasana yang berharga bagi tiap hewan yang hadir. Sebuah langkah harmonis memadukan ruang dan lingkungan terkait erat. Sebuah langkah memenuhi kebutuhan primer hewan, mulai dari nutrisi, air bersih, cahaya matahari, dan tempat tinggal menyerupai habitatnya.

Begitulah kira-kira simpul penjelasan Angga selama sepuluh menit.

“Waktu habis, lanjut video saja.” Kata Pak Turi.

“Baik Pak.”

Video diputar sebagai penutup presentasi sidang akhir. Sesi tanya jawab pun dimulai.

Seperti sidang di kebun binatang. Tidak ada ketegangan. Angga pun tidak menggebu-nggebu dalam menjelaskan. Tiga penguji yang hadir pun cukup cair dengan selip tawa di sela-sela sesi tanya jawab. Penonton yang hadir pun menikmati sajian hasil perancangan yang telah diselesaikan Angga, selama lebih dari satu semester.

Semua berjalan lancar, pertanyaan pun tak seberapa gencar, raut muka kebahagiaan terpancar.